menu

Minggu, 28 April 2019

Marjani


Buktikan Janjimu, Jangan Hanya Bersilat Lidah
“Terwujudnya Indonesia maju berdaulat, mandiri, dan berkeperibadian berlandasan gotong royong”  marupakan visi yang ditawarkan oleh kubu paslon nomor urut 01 pasangan dari  Ir.H.Joko Widodo dan Prof.Kh. Ma’ruf Amin.
Berkali-kali didengungkan di atas mimbar debat dan kampanye  untuk meyakinkan masyarakat Indonesia dari sabang sampai maroke, untuk bersama-sama memajukan Indonesia dengan program-program yang sudah ditawarkan sesuai dengan visi dan misi.
Begitu juga dengan  pasangan H. Prabowo Subianto dan H. Sandi Salahudin Uno kubu paslon nomor urut 02 menawarkan visi yaitu “terhujudnya Bangsa dan Negara Republic Indonesia yang adil, makmur bermartabat, relijius, berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian nasional yang kuat di bidang budaya serta menjamin kehiduoan yang rukun antar warga negara tanpa memandang suku, agama, latar belakang social dan rasnya berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar Negara republic Indonesia tahun 1945”.
 Tidak kalah lagi, mantan kopasus yang tegas dan pembisnis sukses itu mendengungkan visinya dengan karakter yang menggemparkan yang membuat pendukung dan lawan kampanyenya merasa merinding gemetar. Dan menawarkan program-program yang sesuai dengan keadaan Indonesia saat ini yaitu kebutuhan lapangan pekerjaan.
Ke-4 putra terbaik Indonesia itu merupakan datang dari latar belakang berbeda hanya untuk bangsa Indonesia. Masing-masing mereka  memiliki karakteristik yang kuat, seolah-olah kalobarasi luar biasa yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Mereka datang dari orang-orang pembisnis, Majlis ulama Indonesia dan mantan kopasus.
Mereka menawarkan Visi yang  menarik kian kali diperbincangkan setiap debat dengan pengembangan visi yang ditawarkan  sebagai tema. Sesuai visi yang ditawarkan, Banyak tema yang ditanyakan  oleh komisi pemilihan umum (KPU), tujuannya apa? untuk meyakini  pilihan rakyat dan menentukan 5 tahun masa depan bangsa Indonesia, sehingga dengan menyelenggarkan debat sebanyak 5 kali.
Komisi pemilihan umum (KPU) memberikan kesempatan lain kepada pasangan ke-2 untuk menyampaikan visinya melalui panggung kampanye  tujuannya supaya rakyat lebih yakin terhadap pilihanya nanti.
Lalu, Berbagi pendekatan yang dilakukan untuk meyakini  visi yang ditawarkan. Mulai dari panggung debat, panggung kampanye, bahkan langsung membelusuki pelosok desa-desa. Ke-2 pasangan itu bahkan menggunakan pendekatan-pendekatan terhadap rakyat dengan cara yang unik-unik.
Namun, Sekarang ini rakyat tidak butuh janji-jani lagi. Tidak butuh kasihan. Tapi yang dibutuhkan keadailan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan. Percuma visi misi bagus, program banyak. Akan tetapi itu hanya belaka untuk menarik empati rakyat supaya dirinya terpilih. Rakyat sudah bosan, muak dengan janji palsu itu.
Yang diinginkan rakyat saat ini. Dikala siapa pun yang memimpin Negara Indonesia 5 tahun kedepan nanti supaya rakyat diberikan hak-haknya, jangan sampai hak itu dirampas oleh pemerintah. Seperti dikabarkan surat kabar kompas “Banyak tanah rakyat dirampas, FKMTI lapor ke komnas HAM”.
Jakarta, Harian umum-Komnas HAM didesak untuk mendukung kasus perampasan tanah rakyat, tuntutan tersebut disampaikan para korban perampasan tanah yang tergabung dalam forum korban perampasan tanah Indonesia, ssaat mendatangi kantor komnas HAM di kawasan menteng, Jakarta pusat, selasa (9/4/2019).
Kasus seperti inilah yang tidak diinginkan rakyat. Seharusnya pemerintah mengayomi juga berbuat bijak dalam melakukan tindakannya. Jangan hanya golongan rendah saja mendapatkan perlakuan yang tidak hormat. Ibarat pepatah mengatakan “hukuman tajam kebawah tumpul ke atas”.
Sekarang ini Rakyat membutuhkan pemimpin yang merakyat. Pemimpin yang menegakkan keadilan, pemimpin yang meberikan kesejahteraan rakyat juga keadilan yang sesui dengan tempatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar