LUNTURNYA BUDAYA MALU DI
MASYARAKAT
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi
banyak pula melunturkan budaya - budaya yang ada di sebuah masyarakat. Salah
satunya adalah budaya malu. Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu
memiliki arti yang beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau
kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya
sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya.
Sebagai sebuah emosi dari manusia,rasa malu menjadi
sebuah benteng yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perilaku dan
tindakan seseorang. Tindakan dan perilaku dari seorang individu dapat
mendatangkan konsekuensi pada diri manusia, salah satunya yaitu konsekuensi
secara sosial atas tindakan dan perilaku individu. Konsekuensi tersebut berupa
sanksi sosial yang akan diterima individu atas tindakan dan perilakunya. Sanksi
sosial tersebut bisa berupa pujian, kritik bahkan celaan.
Namun seiring dengan perkembangan peradaban manusia,
perlahan budaya malu itu mulai terkikis. Sanksi sosial tidak lagi mendatangkan
rasa malu, begitu apatisnya manusia sekarang.
Seperti sebuah contoh datang dari pengalaman saya,
ada yang rela meminjam uang hanya untuk membeli pakaian - pakaian dengan merk
ternama, begitu juga ada yang merasa malu jika harus mengatakan tidak memiliki
uang, alhasil meminjam uang hanya untuk jalan - jalan dengan teman.
Sudah
hilangkah budaya malu?
Dengan perkembangan dunia digital orang berlomba -
lomba untuk membentuk citra dirinya yang akhirnya mengikis budaya malu
tersebut. Dalam perspektif konsumsi budaya seseorang melakukan konsumsi budaya
itu secara sadar sebagai penanda status sosialnya. Perkembangan teknologi
digital telah membuat konsumsi budaya itu secara nyata dilakukan, terutama
budaya massa.
Lagi - lagi saya harus menyerang kapitalisme, tidak
bisa dipungkiri lagi dengan adanya media sosial orang banyak memperlihatkan
citra dirinya. Misalnya , citra sebagai orang kaya, yang tiap pergi makan di
restoran harus difoto dan disebarluaskan di media sosial ( hehehe..pada ngaku
gak?) , citra sebagai anak kekinian yang selalu pergi jalan - jalan atau
piknik.
Semua tindakan tersebut semata - mata dilakukan
hanya untuk menunjukkan citra diri, selera atas produk budaya menjadi penanda
status sosial seorang individu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar