PILPRES 2019 DAN ‘PERANG’ DI MEDIA SOSIAL
Di susun oleh : zuhud andri
(1700301089)
Calon presiden dan wakil presiden
2019 – 2024 sudah ditetapkan. Berbagai bentuk kampanye dilakukan untuk
mendukung paslon. Media sosial menjadi media kampanye yang paling ramai di era
milenial. Jika dilihat dari fenomena yang terjadi, laga pilpres yang
mempertemukan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga
Uno ini diprediksi akan lebih panas dibandingkan pada 2014.
Saat pendaftaran calon presiden
di Komisi Pemilihan Umum (KPU), ‘perang’ sudah mulai tampak, di antara kubu
pendukung. Apakah fenomena ini akan menjadi fenomena yang sehat atau tidak bagi
bangsa ini?. Saling serang di media sosial dengan saling mencari topik topik
baru yang digunakan untuk menyerang pihak lawan. Ketika pihak oposisi menyerang
maka pihak posisi akan langsung melawan. Terdapat berbagai bentuk sebutan yang
disampaikan pada tiap-tiap paslon presiden dan wakil presiden, sebagai bentuk
serangan yang diberikan terhadap lawan.
Bahkan terdapat pernyataan bahwa
di media sosial, itu yang di cari adalah pembenaran bukan kebenaran. Lalu sudah
sejauh mana perang antara para pengiat sosial media saat ini? kampanye sudah di
mulai dan media sosial menjadi salah satu bentuk media yang dimanfaatkan untuk
melakukan kampanye. Berbagai bentuk kampanye dilakukan. Yang paling sering kita
lihat adalah kampanye hitam, yang diwarnai dengan cara-cara dan trik yang
kotor. Tidak hanya lempar komentar, umbar caci maki dan hoax semakin membuat
ramai, yang di dalamnya terdapat negesi atau penyangkalan terhadap kebenaran
fakta.
Balck campaign yaitu isu isu yang dilontarkan
dimaksudkan untuk merusak karakter lawan tanpa adanya kebenaran fakta yang
jelas. Perang di media sosial bahkan menjadi ukuran yang dampaknya dapat
dirasakan di dunia nyata. Isu-isu negatif sering digunakan untuk mengundang
daya tarik publikasi media, untuk melakukan serangan serangan politik terhadap
lawan.
Melihat fenomena politik pada
saat ini sangat menarik, banyak sekali tagar tagar yang ramai di media sosial.
Perang saling sindir di media sosial sangat ramai. Berbagai bentuk saling cibir
dan hujatan mewarnai pelaksanaan pemilihan presiden yang akan digelar tahun
depan. Dengan hanya dua calon dukungan masyarakat tentu akan terbelah. Ada pendukung
Jokowi-KH Ma’rif amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Perselisihan pendukung
saat ini sudah terlihat jelas di sosial media. Bahkan jauh sebelum capres Dan
cawapres ditetapkan, perang tagar sudah terjadi. Ada tagar #2019GantiPresiden
dan juga #2019TetapJokowi. Bahkan perang yang ramai di jagat maya ini sudah
terwujud di dunia nyata.
“Dalam fenomena ini terdapat dua
strategi yang dilakukan yaitu membuat narasi dengan tujuan untuk mempromot dan
menjatuhkan. Menjatuhkan diambil dari kubu lawan dari apa yang kurang, yang
pasti pihak ini tidak akan mempromote kekurangan dari kubu masing masing” jelas
Ismail Fahmi peneliti media sosial yang juga pengelola Drone Emprit.
Menyebar berita hoax menjadi tren
dalam laga pilpres tahun ini. Karena dalam sosial media yang dicari adalah
pembenaran bukan kebenaran, maka tiap kubu akan saling gontok gontokan terhadap
berita yang menyerang masing masing kubu. Saling membela terhadap masing masing
dukungan. Kebebasan memilih dan dipilih dimiliki oleh warga Negara Indonesia.
Karena mendukung satu paslon jangan membuat kita buta terhadap kebenaran yang
ada.
Sebagai masyarakat yang melek
akan politik, jangan sampai tutup mata terhadap fakta dan kebenaran yang ada.
Menjadi masyarakat yang bijak dalam era politik saat ini sangat diperlukan.
Bebagai informasi mengenai pekembangan politik saat ini sangat mudah diakses
melalui sosial media. Perang mention dan saling reetwet merupakan
fenomena yang sering terjadi di sosial media. Saling balas komentar di sosial
media bahkan sampai menyebar kebencian sering terjadi di sosial media. Saat ini
sosial media sudah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat.
Kesadaran bagi publik perlu ada.
Jangan jadikan kebecian menjadi hal yang dapat menutup diri dari kebenaran.
Bentuk dukungan terhadap masing-masing paslon adalah hak setiap warga Negara,
tetapi menjadi pendukung yang bijak sangat diperlukan
Jangan membuat warga negara
Indonesia trauma dengan janji janji manis yang dilontarkan. Partisipasi aktif
dalam demokrasi sangat penting, jangan sampai masyarakat Indonesia menjadi acuh
akan politik yang ada, kerena ulah para petinggi Negara ini, hingga akhirnya
mereka akan apatis terhadap pemerintah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar