PEMILU 2019 GOLPUT
Seluruh masyarakat Indonesia menjelang hari H penjoblosan
suara, banyak sekali di suguhan dengan berbagai perihal fariasi kempanye, dalam
pemilihan serentak. Tak terlepas dari
itu kalangan milenial pun tak luput dari godaan dari setiap tim kampanye
masing-masing dari calon plipres. Bagian dari kelompok milenial ini sebagian
besar merupakan pemilih pemula, sehingga mengakibatkan sebagian kecil anak
milenial yang di bodohkan dengan suapan yang mungkin saja tidak sesuai dangan
hasil pemimpin yang akan mendapatkan jabatan tersebut.
Milenial
adalah generasi yang lahir awal 1980-an hingga awal 2000-an, Koordinator Pusat Peneliti Politik
LIPI, Sarah Nuraini Siregar menyatakan, berdasarkan hasil survei lembaganya,
ada sekitar 35 persen sampai 40 persen pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi
generasi milenial, “Atau jumlahnya sekitar 80 juta dari 185 juta pemilih,” kata
Sarah saat ditemui di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, pada Selasa 11 Desember
2018.
Tapi apa jadinya jika sekelompok milenial ini memilih untuk golput atau
dengan kata lain tidak menggunakan hak suaranya. Sebuah survei pada tahun 2017
tentang orientasi politik generasi milenial yang dilakukan oleh center for
stategre and interational studies menemukan fakta bahwa kaum milenial
sedikit minat dalam politik atau dengan kata
lain kaum milenial memilih sikap apatis terhadap politik yang kian tahun
semakin meningkat. Jadi adanya isu kalangan milenial yang memilih untuk golput
jadi ancaman bagi penyelengara pilpres 2019 ini, melihat tingkat golput telah
menunjukkan tren yang meningkat dari tahun ke tahun diamana hampir 30 % pemilih
terdaftar memilih golput di pilpres 2014
lalu dimana mayoritas yang memilih untuk golput adalah kaum milenial.
Kita dapat melihat di tahun 2019 ini tingkat golput pun semakin sangat
meningkat di karnakan banyak sekali anak milenial dari kalangan mahasiswa luar
daerah tidak dapat menggunakan KTP-nya dikarnakan tidak memiliki surat A5 dan
surat penetapan warga di daerah tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar