menu

Senin, 06 Mei 2019

Annisa Tuzzahra Meilani



FENOMENA SEXY KILLERS
Film documenter Sexy Killers ini merupakan salah satu film yang cukup fenomenal belakangan ini. Viewers dari film ini telah mencapai 20 juta dimedia social You Tube. Bertolak  belakang dengan judul dari film ini dengan substansinya, film ini bukan menceritakan mengenai sepasang kekasih yang saling membunuh ataupun berbagai pemikiran lainnya. Namun substansi dari film ini menceritakan bagaimana aktivitas kita yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi dan saling berkaitan dengan fenomena di sekitar kita, salah satunya mengenai lingkungan.
Film ini mengangkat isu yang cukup sederhana dan dekat dengan masyarakat, namun cukup sensitive dan jarang diangkat oleh parafilm-maker Indonesia.­ Mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan para kaum elit ataupun pemerintah juga secara tidak langsung terlibat dalam isu tersebut. Isu dimana ketergantungan masyarakat yang cukup tinggi terhadap listrik yang semakin meningkat berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat Indonesia itusendiri.
Berawal dari scene yang menampilkan sepasang kekasih yang menggunakan berbagai teknologi untuk kebutuhannya di dalam suatu ruangan. Pertanyaannya adalah “bagaimana listrik bias masuk keruangan ini?”. Sebuah pertanyaan singkat yang kemudian membuka substansi dari film documenter ini mengenai sisi gelap dari industry pertambangan batu bara di Indonesia.
Film ini menghadirkan gambar-gambar yang secara simbolis berlawanan, seperti cahaya lampu dalam hotel (dalam bagianawal film), gemerlap lampu di ibukota Jakarta dan lubang-lubang hitam serta kehidupan masyarakat sekitar penambangan batu bara yang ‘gelap’ nasibnya. Secara implicit kita bias membayangkan para pengusaha dan penguasa bergelimang kekayaan dari ekplotasi dan proyek berkaitan dengan batu bara, di sisi lain kita melihat rakyat kecil yang menderita dan susah. Bahkan terusir dari lahan-lahan mereka.
Banyak korban meninggal karena masuk dalam bekas lubang tambang. Dan bias dilihat bagaimana para penguasa dengan begitu santainya menanggapi kematian dan bencana serta kerusakan lingkungan. Sikap dan respons yang sungguh ironis dan tak menunjukkan empati serta tindakannya dalam mengantisipasi dan menyelesaikan permasalahan secara bijak.
Alur dalam Sexy Killers bergerak dengan tidak hanya terfokus pada pusat penambangan batubara di Kalimantan, namun terus berjalan menampilkan berbagai kepentingan dan akibat di berbagai daerah lain, seperti Karimun Jawa, Batang Jateng, Cirebon, Bali, dan juga Palu Sulawesi. Alur ini ibarat gerak kapal-kapal tongkang pembawa batu bara yang akan menjadi bahan bakar PLTU di berbagai daerah. Kapal-kapal itu melintasi laut, siap bersandar kepusat-pusat PLTU dan daerah lain yang akan dibangun proyek serupa di dalamnya.

Kapal-kapal itu menjadi perkara bagi nelayan yang membuat hasil tangkapannya berkurang. Kapal-kapal dan timbunan batu bara di dalam yaitu pula yang merusak terumbu karang dan ekosistem laut. Para petani garam di Cirebon tergusur karena proyek PLTU. Kita menyaksikan bagaimana pengusaha yang mendapat dukungan dari penguasa melakukan tindakan represif pada anggota masyarakat yang memprotes eksploitasi alam dan rencana pembangunan  PLTU serta akibat-akibatnya. Kita melihat warga masyarakat yang harus mengorbankan kesehatan bahkan mempertaruhkannya karena polusi udara dan berbagai pencemaran yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar