menu

Minggu, 12 Mei 2019

Taufik Hidayat


PEMILU 2019
Perkembangan teknologi informasi memiliki pengaruh dalam hubungan sosial dilingkungan masyarakat, baik dalam cara berkomunikasi maupun dalam kehidupan sehari-hari perkembangan teknologin informasi ini membawa dampak positif dann juga dampak negatif dan yang tidak dapat dihindari dari terpaan. Namun perkembangan teknologi informasi ini tidak terlepas dari berbagai isu baru, salah satunya adalah berita hoax.
Komunikasi melalui media massa pun kini menjadi trend bagi politis, bahkan dapat meramaikan hajatan politik seperti halnya memilih presiden (pilpres). Kali ini pilpres mengalami terpaan perkembangan teknologi yang pesat sehingga metode kampanye juga mengalami pergeseran dari konvensional menjadi elektronik. Yang pada faktanya adalah kemajuan informasi dan komunikasi saat imi menuntut agar dapat disesuaikan . riuh rendah diskusi , perang gagasan, visi dan misi pasangan calon berpindah dari dunia nyata ke jagad maya, maka segala informasi di tumpahkan ke media sosial di bandingkan media konvensional, sebab media sosial memiliki penetrasi yang tidak mengenal ruang dan waktu, batas usia, dan generasi tanpa batasyang menarik,.
Informasi yang di keluarkan baik orang perorangan maupun tim kampanye melalui media sosial dan elektronik lainnya ketika telah terkirim dan di baca oleh banyak orang dapat mempengaruhi emosi, perasaan, pikiran bahkan tindakan seseorang ataukelompok. Sangat di sayangkan apabila informasi yang di sampaikan tersebut adalahinformasi yang tidak akurat terlebih informasi tersebut adalah informasi bohong (hoax) dengan judul yang sangat provokatif mengiring pembaca dan pengerima kepada opini yang negatif,fitnah, penyebar kebencianyang di terima dan menyerang pihak ataupun membuat orang menjadi takut, terancam dan dapat merugikan pihak yang di beritakan sehingga dapat merusak reputasi dan menimbulkan kerugian materi.
Bentuk dukungan terhadap masing-masing paslon adalah hak setiap warga negara. Tetapi menjadi pendukung yang bijak sangatlah di perlukan, berbagai bentuk kampanye di lakukan untuk mendukung paslon terutama media sosial menjadi media kampanye yang paling ramai di era milenial ini. Sebagai masyarakat melakan politik, jangan sampai tutup mata terhadap fakta dan kebenaranyang ada, menjadi masyarakat yang bijakdalam era politik sat ini sangat di perlukan jangan jadikan kebencian menjadi hal yang dapat menutup diri dari kebenaran.
Untuk capres dan cawapres kelak jika menang di antara kedua pasangan calon jangan membuat warga indonesia trauma akan janji-janji manis yang kalian lontarkan. Partisipasi aktif dalam demokrasi sangt penting, jangan sampai masyarakat indonesia menjadi acuh akan politik yang ada karena ulah para petinggi negara, hingga akhirnya mereka akan apatis terhadap pemerintah.
Saya berharap pemili di indonesia kembali seperti semula dan tidak berlangsung secara serentak karena pemilu di 2019 ini menjadi salah satupemilu terumit yang di rasakan oleh masyarakat indonessia karena kalau bersamaan bisa menimbulkan sejumlah permasalahan dari sisi anggaran pun negara harus mempunyai dana yang cukup besar dan sisi pelaksanaannya pun berpotensi suara bocor lebih besar.

Pemilu serentak membuat masyarakat condong lebih memerhatikan pemilihan presiden. Dan jumlah kelompok golput dalam pemilihan presiden 2019 ini juga diperkirakan akan meningkat disebabkan ketidakpastian masyarakat pada pemerintah dan lembaga tinggi negara. Kemudian pemilu 2019 adalah pemilu minim visi dan misi karena kedua paslon hanya menarik perhatian masyarakat dengan menjual isu agama. Seharusnya kedua paslon tersebut berlomba dalam program kerja seperti apa yang mereka lakukan dan kontribusi apa yang akan mereka laksanakan untuk pembangunan Indonesia dan saya berharap pilpres 2019 ini tidak membawa perpecahan karena isu agama dan banyaknya kebencian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar