BANGSA
JUARA
Siapa pun yang meraih prestasi
tingkat nasional, regional, apalagi internasional, pada umumnya hidupnya pasti
akan terjamin. Selain terkenal, mereka juga akan mendapatkan pekerjaan yang
sesuai dengan prestasi yang diraihnya dan memperleh penghsilan yang memuaskan.
Ia akan disanjung dan dipuja serta dimanjakan. Itulah nasib para juara di
negara maju yang menghargai prestasi. Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?
Di Indonesia juga sama, siapa pun
yang juara akan selalu disanjung dan dipuja. Mereka juga akan mendapatkan abeja
penghargaan, penghormatan, dan kesejahteraan. Akan tetapi, pada umumnya,
penghargaan yang diberikan bersifat sementara. Setelah juara, ya sudah. Tidak
ada lagi perlakuan berikutnya, kecuali jika yang bersangkutan berinisiatif
melanjutkan prestasinya secara mandiri. Mereka yang mengandalkan lembaga
tertentu untuk menampung dan mengembangkan bakatnya kerapkali menghadapi
kendala. Alih-alih tambah berprestasi, para jawara justru kerap frustasi karena
menghadapi kenyataan pahit yang tak seirama dengan prestasi yang diraih.
Jika dia seorang Pegawai Negeri
Sipil (PNS), maka dia tidak serta-merta menduduki jabatan tertentu karena
prestasinya. Banyak pintu yang harus dilaluinya agar mampu menduduki jabatan
itu. Kalau harus enduduki jabatan tertentu, kadang tidak sesuai dengan
pendidikan dan prestasi yang diraihnya. Bahkan, tidak jarang mereka
mendapatkan job yang jauh dari bidang yang
ditekuninya. Pada kenyataannya, jabatan di PNS lebih bersifat “urut kacang”;
siapa yang senior maka dia yang mendapatkan jabatan tersebut. Kalaupun
seseorang naik jabatan yang istimewa, terkadang itupun karena kedekatannya
dengan sejumlah pengambil kekuasaan.
Di luar semua kendala teknis di
atas, kendala yang paling mendasar adalah karena kultur kita belum kondusif
bagi peraih prestasi. Kita masih memelihara “budaya” bahwa menang itu
mengalahkan. Maka, siapa pun yang meraih prestasi, berarti dia “mengancam” bagi
orang lain, terutama pimpinan yang bisa setiap saat harus rela digusur untuk
memberi tempat bagi yang berprestasi tersebut. Sebaliknya, adanya orang yang
berprestasi justru memunculkan tindakan kontraproduktif berupa penjegalan
terhadap orang-orang berprestasi tersbeut. Jika iklim berprestasi di tanah air
masih seperti ini, kapankah Indonesia akan maju dan menjadi bangsa juara?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar